Cerita Hidup

Surat Cinta

Sewaktu kecil, saya ga pernah ikutan yang namanya TPA atau TPQ. Jadi dulu suka kagum aja liat teman yg bisa baca “huruf gundul” yang tanpa harkat dsb itu. Tapi yang saya ingat, dulu saya pernah punya 2 guru mengaji, bu Yoyoh dan pak Nurdin

Yang sangat membekas kenangan dengan bu Yoyoh. Seruu sekali. Setiap habis maghrib, saya dan teman-teman akan bergerombol ke rumah beliau. Bergiliran mengaji, jari-jari mungil sibuk menunjuk juz’amma dan Al-Qu’an dengan lidi. Lidi atau pensil..

Selepas SD, aktivitas mengaji mulai berkurang. Sudah mulai disibukkan dengan kegiatan sekolah, les atau ekskul yang lain. Terus berlanjut sampai SMA. Yaaa… dulu saya masih jauuuh sekali dari yang namanya kehidupan agama [sedih..]

Alhamdulillah… Ketika kuliah, Allah mempertemukan saya dengan teman-teman yang baik, pinter, sholeh dan sholihah… Saya mulai belajar agama..

Mulai belajar mengaji lagi. Sampai bela-belain beli qur’an tajwid biar paham hehehe…

Pas kuliah, kayanya semangat mengaji besaaar banget. Setelah kerja saya akui mulai menurun. Segala alasan dijadikan pembelaan diri untuk tidak mengaji/baca Al-Qur’an. Astagfirullah…

Ramadhan kali ini. 1437 H. Saya baru menemukan kembali semangat dan kenikmatan itu. Bismillah..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s